*Jangan Habiskan Energi Melawan Program Rakyat, Kejar Para Penjarah Kekayaan Negara*

oleh -2 Dilihat
oleh

LensaKita.co.id — Mahasiswa dikenal sebagai penjaga nurani bangsa. Ketika negara menghadapi ketidakadilan, mahasiswa turun ke jalan. Ketika kekuasaan melenceng, mahasiswa bersuara. Namun pertanyaannya, apakah hari ini arah perjuangan itu sudah benar-benar menyentuh sumber masalah yang paling besar.

Pery Rinandar selaku Ketua Umum Barisan Suara Muda Indonesia, ” Terlalu sering publik disuguhi demonstrasi yang menuntut penghentian program-program yang manfaatnya dirasakan langsung oleh rakyat kecil, sementara itu, para pelaku kejahatan ekonomi yang merampok triliunan rupiah kekayaan negara justru seolah menjadi isu sampingan, padahal, jika ingin berbicara tentang penderitaan rakyat, maka musuh utamanya bukanlah program yang memberi makan, pendidikan, atau bantuan kepada masyarakat, melainkan mereka yang menguras uang negara untuk memperkaya diri sendiri.”

“Setiap tahun bangsa ini kehilangan potensi penerimaan negara akibat korupsi, manipulasi ekspor, penyelundupan, permainan impor, pengemplangan pajak, hingga penyalahgunaan subsidi.

Uang yang seharusnya digunakan untuk membangun sekolah, rumah sakit, jalan, irigasi, dan menciptakan lapangan kerja, justru mengalir ke rekening segelintir orang yang memanfaatkan kelemahan sistem dan lemahnya penegakan hukum,” tegas aktifis 98 ini.

“Ironisnya, kemarahan publik sering kali lebih keras kepada kebijakan yang masih bisa diperbaiki daripada kepada para pelaku kejahatan ekonomi yang secara nyata merampok hak rakyat.

Demonstrasi yang seharusnya menjadi alat kontrol terhadap ketidakadilan justru berisiko kehilangan fokus ketika gagal membedakan antara kebijakan yang perlu dievaluasi dengan kejahatan yang harus diberantas tanpa kompromi,” lanjut Pery

“Jika mahasiswa benar-benar ingin membela rakyat, maka tuntutan paling keras seharusnya diarahkan kepada para koruptor, mafia sumber daya alam, pelaku manipulasi ekspor, penyelundup, mafia subsidi, dan seluruh jaringan yang menyebabkan kekayaan bangsa bocor ke tangan segelintir orang. Mereka inilah yang sesungguhnya membuat negara kehilangan kemampuan untuk menyejahterakan rakyat,” ungkapnya.

Selanjutnya Pery menegaskan, Sudah waktunya paradigma perjuangan diubah. Jangan hanya menuntut penjara bagi para pelaku. Penjara tidak cukup. Mereka harus dimiskinkan, Seluruh aset hasil kejahatan harus dirampas untuk negara.

Perusahaan yang terbukti memperoleh keuntungan dari praktik ilegal harus dikenakan pidana korporasi. Tidak boleh ada lagi situasi di mana pelaku menikmati hasil kejahatan bernilai triliunan rupiah lalu keluar dari penjara dengan tetap mempertahankan kekayaannya.”

“Lebih dari itu, negara harus membuka secara transparan proses audit terhadap aliran dana, laporan pajak, devisa hasil ekspor, dan seluruh aktivitas bisnis yang berpotensi merugikan negara.

Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan, tetapi harus menyentuh aktor intelektual, pemodal, dan korporasi yang berada di belakang layar,” tegasnya lagi

Selanjutnya Pery mengatakan,” Mahasiswa memiliki energi, idealisme, dan keberanian yang luar biasa. Sayangnya, energi besar itu akan sia-sia jika diarahkan ke sasaran yang keliru.

Rakyat tidak akan menjadi lebih sejahtera hanya karena sebuah program dihentikan.”Rakyat akan lebih sejahtera ketika kebocoran uang negara ditutup, korupsi diberantas, mafia ekonomi dihancurkan, dan kekayaan bangsa kembali digunakan untuk kepentingan masyarakat.”

“Sejarah selalu berpihak kepada mereka yang berani melawan ketidakadilan yang sesungguhnya. Karena itu, jika ingin turun ke jalan, turunlah untuk mengejar para penjarah kekayaan negara. Jika ingin berteriak, berteriaklah agar para koruptor dimiskinkan.

Jika ingin membuat perubahan, arahkan tekanan kepada mereka yang selama ini menggerogoti masa depan bangsa, Jangan sampai kemarahan rakyat salah alamat.

Musuh utama kesejahteraan bangsa bukanlah program yang membantu rakyat, melainkan para penjarah yang menjadikan kekayaan negara sebagai ladang keuntungan pribadi,” tutup Pery.**

 

 

Editor : Eman Melayu