LensaKita.co.id — Politik sering kali dipersepsikan sebagai arena pertarungan kepentingan. Namun, politik juga memiliki wajah lain yang jauh lebih penting, menjadi jembatan ketika hubungan antarpihak mulai merenggang.
Pertemuan Wakil Ketua DPR RI Prof Sufmi Dasco Ahmad dengan pengacara Hotman Paris Hutapea dan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Akhmad Munir patut dilihat dalam perspektif tersebut.
Ketua Umum Ikatan Alumni UPN Veteran Jakarta sekaligus founder Indonesia Insight Journalist Network, Sayed Junaidi Rizaldi, menilai langkah Dasco mempertemukan kedua pihak merupakan tindakan positif dan menunjukkan bahwa komunikasi masih menjadi jalan terbaik untuk menyelesaikan persoalan.
“Menurut saya, langkah Pak Dasco sangat positif. Di tengah situasi ketika sebuah persoalan mudah sekali membesar di ruang publik, justru diperlukan tokoh yang mau menjadi jembatan. Mempertemukan pihak-pihak yang berbeda bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk kedewasaan dalam berpolitik,” ujar Sayed kepada media Selasa 28/07/2026 melalui selulirnya.
Menurutnya, persoalan antara figur publik dan insan pers jangan sampai berkembang menjadi pertarungan terbuka yang justru merugikan banyak pihak.
“Ketika ada persoalan, jangan selalu dicari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang lebih penting adalah bagaimana menemukan jalan keluar yang bermartabat,” katanya.
Politik Jangan Selalu Dipahami sebagai Pertarungan
Sayed melihat langkah Dasco memiliki pesan politik yang lebih luas.
Dalam demokrasi, kata dia, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Yang berbahaya justru ketika perbedaan tersebut tidak lagi memiliki ruang dialog.
“Demokrasi membutuhkan perbedaan, tetapi demokrasi juga membutuhkan kemampuan untuk berdamai dengan perbedaan. Kalau setiap persoalan diselesaikan dengan saling serang, kita akan kehabisan energi untuk membangun bangsa,” tegasnya.
Karena itu, ia mengapresiasi pertemuan Hotman Paris dan Akhmad Munir yang difasilitasi Dasco.
Menurut Sayed, ketika persoalan sudah memasuki ruang dialog dan terdapat kemauan untuk saling memahami, maka kesempatan rekonsiliasi harus dibuka seluas-luasnya.
“Kalau sudah ada ruang untuk saling meminta maaf dan menyelesaikan persoalan, jangan justru dipelihara konfliknya. Kita harus memberikan apresiasi kepada mereka yang memilih berdamai,” ujarnya.
Marwah Pers Harus Tetap Dijaga
Namun, Sayed mengingatkan bahwa rekonsiliasi tidak boleh dimaknai sebagai pengabaian terhadap prinsip.
Kebebasan pers, independensi wartawan, dan profesionalisme jurnalistik tetap harus dijaga. Di sisi lain, figur publik juga memiliki hak untuk mendapatkan perlakuan yang adil dan proporsional.
“Pers harus tetap kritis. Tetapi kritik harus dibangun dengan profesionalisme dan tanggung jawab. Begitu juga tokoh publik harus memahami bahwa kritik merupakan bagian dari demokrasi,” katanya.
Menurut Sayed, titik temu antara kebebasan pers dan hak setiap warga negara adalah saling menghormati.
“Jangan karena berbeda pendapat kemudian pers dianggap musuh. Jangan pula karena seseorang dikritik kemudian wartawan dianggap lawan. Kita harus membangun budaya demokrasi yang sehat,” ujarnya.
Dasco dan Politik Merawat Persatuan
Sayed menilai, peran Dasco dalam mempertemukan Hotman Paris dan Akhmad Munir memperlihatkan satu model politik yang semakin dibutuhkan Indonesia: politik yang meredakan ketegangan.
“Politik tidak selalu harus menghasilkan pemenang dan pecundang. Ada kalanya politik justru harus menghasilkan titik temu,” katanya.
Ia menilai karakter semacam ini penting, terutama di tengah ekosistem media sosial yang membuat persoalan kecil dapat berkembang menjadi polemik nasional dalam waktu singkat.
“Sekarang satu kalimat bisa dipotong, disebarkan, kemudian ditafsirkan macam-macam. Karena itu, dialog langsung menjadi sangat penting. Jangan semua persoalan diselesaikan melalui media sosial,” kata Sayed.
Menurutnya, tokoh seperti Dasco mempunyai posisi strategis untuk mempertemukan berbagai kelompok yang sedang berseberangan.
Kalau ada tokoh yang mampu menjadi jembatan, mengapa kita harus memilih menjadi tembok?” ujarnya.
Dari Hotman-PWI ke Budaya Rekonsiliasi
Selanjutnya, Sayed berharap pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai penyelesaian satu persoalan antara Hotman Paris dan PWI.
Lebih jauh, ia berharap muncul budaya baru dalam kehidupan publik Indonesia: ketika terjadi persoalan, dialog didahulukan. ketika terjadi kesalahan, permintaan maaf tidak dianggap sebagai kehinaan dan ketika ada perbedaan, persatuan tidak boleh menjadi korban.
“Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang mau mempertemukan, bukan memperhadapkan. Kita membutuhkan lebih banyak jembatan, bukan sekat,” katanya.
Sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni UPN Veteran Jakarta, Sayed menilai semangat tersebut juga sejalan dengan nilai bela negara.
“Bela negara dalam konteks kekinian bukan hanya menjaga wilayah dan pertahanan negara. Menjaga persatuan, menjaga demokrasi, menjaga kebebasan pers, dan menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik juga merupakan bagian dari tanggung jawab kebangsaan,” tuturnya.
Karena itu, ia memberikan apresiasi terhadap langkah Dasco.
“Pertemuan ini sederhana, tetapi pesannya besar. Bahwa persoalan bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Bahwa perbedaan tidak harus berujung permusuhan. Dan bahwa politik masih bisa digunakan untuk merajut persatuan,” kata Sayed.
Pada akhirnya, menurut Sayed, ukuran keberhasilan seorang politisi bukan semata seberapa banyak kekuasaan yang berhasil dikonsolidasikan.
“Kadang ukuran seorang negarawan justru terlihat ketika ia mampu membuat orang-orang yang sedang berseberangan kembali duduk satu meja. Di situlah politik menunjukkan wajah terbaiknya,” pungkasnya.**
Editor : Eman Melayu
