*Oktasari Sabil: Dari Aktifis menuju Panggung Intelektual*

oleh -31 Dilihat
oleh
Oplus_131072

Oktasari Sabil

LensaKita.co.id — Ada orang yang mengejar gelar untuk menaikkan status. Ada pula yang menempuh pendidikan tinggi karena merasa semakin banyak ilmu, semakin besar pula tanggung jawabnya kepada orang lain.

Bagi saya, Oktasari Sabil lebih dekat pada kelompok kedua.

Gelar doktor ( PhD ) yang kini diraihnya dari negeri jiran bukanlah akhir perjalanan. Justru menjadi ujian baru, apakah ilmu yang dimiliki akan membuatnya semakin jauh dari masyarakat, atau semakin dekat dengan persoalan-persoalan kemanusiaan.

Saya mengenal Oktasari bukan hanya dari gelarnya. Jauh sebelum menyandang gelar doktor, ia telah melewati jalan aktivisme mahasiswa. Ia pernah aktif di KOHATI, ruang yang membentuk banyak perempuan untuk berani berpikir, bersuara dan mengambil peran dalam kehidupan sosial.

Aktivisme bukan sekadar soal berteriak di jalan atau berdebat di ruang-ruang organisasi. Aktivisme yang sesungguhnya adalah keberanian untuk peduli ketika orang lain memilih diam.

Dan karakter itu masih terlihat pada Oktasari.

Ia memiliki perhatian yang kuat terhadap perempuan dan anak. Ini bukan isu kecil. Perempuan dan anak sering menjadi kelompok yang paling rentan ketika berhadapan dengan ketidakadilan, kekerasan, diskriminasi maupun ketidakberdayaan.

Membela mereka membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan. Dibutuhkan hati.

Di sinilah saya melihat sisi lain Oktasari, ia ringan tangan.

Ia tidak selalu bertanya siapa yang akan mendapatkan keuntungan ketika membantu orang lain. Ada semacam dorongan natural untuk turun tangan ketika melihat persoalan.

Di zaman ketika kebaikan kadang harus diumumkan terlebih dahulu agar dianggap ada, sikap semacam itu justru menjadi sesuatu yang langka.

Tetapi jangan salah membaca kelembutan itu sebagai kelemahan.

Oktasari adalah sosok yang tegas dan lugas. Ia bisa bersikap keras terhadap persoalan yang memang harus dilawan. Ia tidak terbiasa menyembunyikan sikap di balik kalimat-kalimat yang terlalu diplomatis.

Bagi saya, karakter seperti ini penting bagi perempuan yang memilih masuk ke ruang publik.

Sebab perempuan di ruang publik sering menghadapi standar ganda. Ketika lembut, dianggap lemah. Ketika tegas, disebut galak. Ketika kritis, dianggap terlalu berani. Ketika diam, dipertanyakan kapasitasnya.

Karena itu, perempuan harus berhenti meminta izin untuk menjadi dirinya sendiri.

Dan Oktasari tampaknya memahami itu.

Tegas bukan berarti kehilangan empati. Lugas bukan berarti kehilangan kesantunan. Dan berani bersuara bukan berarti kehilangan integritas.

Justru ketiganya harus berjalan bersama.

Saya kira, itulah modal yang membuat perjalanan akademik Oktasari menjadi menarik. Sebab pendidikan tinggi tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang pintar menjawab soal, tetapi gagap ketika berhadapan dengan persoalan masyarakat.

Gelar doktor seharusnya membuat seseorang semakin peka, bukan semakin berjarak.

Semakin tinggi pendidikannya, semakin besar pula kewajiban moralnya.

Karena itu, saya berharap gelar doktor Oktasari tidak berhenti pada tulisan di kartu nama. Ia harus menjadi energi baru untuk memperjuangkan isu perempuan, perlindungan anak, pendidikan, pemberdayaan masyarakat dan ruang publik yang lebih berkeadilan.

Indonesia membutuhkan lebih banyak perempuan seperti itu.

Perempuan yang memiliki kapasitas akademik, tetapi tidak kehilangan akar sosial.

Perempuan yang bisa berada di ruang elite, tetapi masih mampu melihat orang kecil.

Perempuan yang berani berbicara, tetapi tidak lupa mendengar.

Perempuan yang tegas dalam prinsip, tetapi tetap ringan tangan ketika orang lain membutuhkan.

Dan yang paling penting, perempuan yang tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, melainkan menjadikan kebermanfaatan bagi manusia lain tanpa membedakan asal usulnya.

Oktasari Sabil boleh saja kini menyandang gelar doktor.

Tetapi bagi saya, gelar itu bukanlah mahkota.

Ia adalah mandat.

Mandat untuk membuktikan bahwa pendidikan tinggi tidak membuat seseorang semakin tinggi hati. Sebaliknya, semakin tinggi ilmu, semakin dalam pula kesadaran untuk mencintai dan membantu orang lain.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena berapa banyak gelar yang melekat di belakang namanya.
Ia dikenang karena berapa banyak orang yang pernah merasa terbantu, terlindungi dan dikuatkan oleh kehadirannya.

Dan di situlah perjalanan seorang Oktasari Sabil sesungguhnya baru dimulai.**

 

 

**Sayed Junaidi Rizaldi*
*Ketua Umum Ikatan Alumni UPN Veteran Jakarta

Editor : Redaksi