LensaKita.co.id — Program Makan Bergizi Gratis ( MBG ) pada dasarnya adalah kebijakan yang baik. Tidak ada yang menolak anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang layak. Tetapi niat baik saja tidak cukup jika pelaksanaannya justru menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat.
Pernyataan Zulkifli Hasan sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan bahwa ikan yang tidak laku di pasar akan diserap untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (Kompas.com 14/04/26) justru menimbulkan pertanyaan serius, apakah program makan bergizi gratis ini diposisikan sebagai program peningkatan kualitas gizi anak, atau malah menjadi tempat “pembuangan” komoditas yang gagal terserap pasar.
Anak-anak tidak boleh dipandang sebagai objek distribusi barang yang tidak laku. Program gizi harus berbicara tentang kualitas, kesegaran, standar kesehatan, dan pengawasan ketat.
Jangan sampai publik menangkap kesan bahwa yang penting barang habis, lalu dialihkan ke dapur MBG. Anak – anak Indonesia butuh gizi berkualitas bukan cuma objek pemasaran barang yang tidak laku
Kita tentu memahami niat baik pemerintah membantu nelayan agar harga ikan tidak jatuh. Tetapi niat baik saja tidak cukup jika kualitasnya tidak dijaga.
Cara melangkah yang baik buat solusi perlindungan nelayan yang baik juga, dan terkhusus program MBG jangan sampai ada komunikasi yang kurang tepat dan terkesan menurunkan standar program gizi nasional.
Masalahnya, ini bukan pertama kali polemik muncul dalam pelaksanaan MBG. Dari persoalan distribusi, kesiapan dapur, kualitas makanan, hingga tata kelola anggaran, kritik terus bermunculan di berbagai daerah.
“Karena itu Badan Gizi Nasional ( BGN ), juga harus berani melakukan evaluasi total, bukan sekadar defensif setiap kali muncul kritik publik.
Koreksi itu penting agar program besar ini tidak kehilangan kepercayaan masyarakat. Jangan setengah hati. Pemerintah harus memastikan MBG berdiri di atas standar mutu pangan yang jelas, transparan, dan profesional. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya citra program, tetapi kesehatan dan martabat anak-anak Indonesia sendiri dan terlebih lagi pemerintahan Prabowo Gibran.**
Eman Melayu
Sumber : *Pery Rinandar
* Ketua Umum Barisan Suara Muda Indonesia
* Aktifis 98
