*Prabowo dan Dasco : Libra, Timbangan Politik, dan Si Kancil*

oleh -17 Dilihat
oleh

LensaKita.co.id — Prabowo Subianto dan Sufmi Dasco Ahmad terpaut usia sekitar 16 tahun. Keduanya juga berada di bawah naungan zodiak yang sama, Libra, yang secara simbolis dilambangkan dengan timbangan dan kerap dikaitkan dengan keseimbangan.

Prabowo lahir 17 Oktober 1951 sedangkan Dasco lahir 7 Oktober 1967.

Tentu, zodiak bukanlah ukuran untuk menilai kemampuan politik seseorang. Namun, simbol timbangan Libra dapat menjadi metafora menarik untuk membaca relasi politik antara Prabowo dan Dasco.

Prabowo adalah figur pemimpin bangsa, Presiden Republik Indonesia, yang memikul tanggung jawab besar dalam menentukan arah kebijakan negara. Sementara itu, Dasco memainkan peran strategis dalam dinamika politik, komunikasi antarkekuatan, serta upaya menjaga keseimbangan di tengah beragam kepentingan politik nasional.

Dalam politik, menjadi pemimpin bukan hanya soal mengambil keputusan. Ada pula kebutuhan untuk memastikan bahwa keputusan tersebut memiliki dukungan politik yang memadai, komunikasi yang terjaga, dan ruang dialog yang tetap terbuka.

Di sinilah peran Dasco menjadi menarik untuk dicermati.

Julukan Si Kancil yang dilekatkan kepada Dasco dapat dimaknai sebagai gambaran kelincahan dan kecerdikan dalam membaca situasi. Kancil dikenal bertubuh kecil, tetapi dalam cerita rakyat Indonesia memiliki kecerdikan untuk menghadapi situasi yang sulit.

Dalam konteks politik, analogi itu menggambarkan kemampuan membaca momentum, memahami karakter para pemain, dan mencari jalan keluar ketika kepentingan politik berhadapan satu sama lain.

Politik nasional bukanlah arena yang selalu bergerak lurus. Ada kepentingan partai, aspirasi masyarakat, dinamika parlemen, serta berbagai persoalan yang membutuhkan komunikasi dan negosiasi. Dalam situasi seperti itu, kecepatan membaca perubahan dapat menjadi modal penting.

Prabowo berada pada posisi sebagai pengambil keputusan dan pemegang tanggung jawab kepemimpinan nasional. Dasco, melalui perannya di ranah politik, dapat membantu menjembatani komunikasi dan menjaga agar perbedaan kepentingan tidak serta-merta berkembang menjadi pertentangan yang menghambat jalannya pemerintahan.

Keduanya memiliki peran berbeda, tetapi dapat saling melengkapi.

Jika Prabowo adalah figur yang memimpin perjalanan bangsa, Dasco dapat dianalogikan sebagai salah satu pemain politik yang membantu menjaga keseimbangan di sepanjang perjalanan tersebut.

Namun, keseimbangan politik bukan berarti meniadakan kritik atau menyamakan semua kepentingan. Keseimbangan yang sehat justru membutuhkan ruang bagi perbedaan pendapat, pengawasan, dan koreksi agar kekuasaan tetap berjalan sesuai kepentingan rakyat.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan relasi politik Prabowo dan Dasco bukanlah kesamaan zodiak atau julukan yang melekat pada keduanya, melainkan sejauh mana komunikasi, kecerdikan politik, dan keseimbangan kekuasaan mampu menghasilkan pemerintahan yang stabil sekaligus berpihak kepada masyarakat.

Di tengah kompleksitas politik Indonesia, sosok pemimpin membutuhkan dukungan politik yang kuat. Namun, dukungan itu akan lebih bermakna apabila turut menjaga kualitas demokrasi, bukan sekadar mempertahankan kekuasaan.

Di situlah metafora Libra menemukan maknanya, timbangan harus tetap seimbang agar perjalanan tidak kehilangan arah.**

 

*Penulis*
*Sayed Junaidi Rizaldi,M.Si., CCOP.,CGOP.,QRGP*

*Ketua Umum Ikatan Alumni UPN Veteran Jakarta*

*Founder Gerakan Indonesia Gemilang*