*Tuduhan Bestari terhadap Budi Arie Dinilai Prematur, Video Jangan Dipotong Sepenggal*

oleh -36 Dilihat
oleh

LensaKita.co.id — Tudingan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang menyebut Budi Arie Setiadi berupaya mengadu domba Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 Joko Widodo dinilai terlalu prematur dan perlu dilihat secara utuh dalam konteks pernyataannya.

Pengamat politik Kristiono Budiawan, SH mengatakan, publik jangan terjebak pada potongan video atau kutipan yang dilepaskan dari keseluruhan konteks.

“Kalau kita ingin menilai pernyataan seseorang secara objektif, jangan hanya melihat satu-dua kalimat yang dipotong. Kita harus melihat apa yang disampaikan secara keseluruhan, konteksnya apa, dan pesan politik yang sebenarnya ingin disampaikan,” ujar Kristiono.

Menurutnya, pernyataan Budi Arie justru menunjukkan pesan yang berlawanan dengan tudingan tersebut. Budi Arie secara terbuka mengatakan hubungan Prabowo dan Jokowi baik serta meminta agar tidak ada pihak yang mengadu domba keduanya.

“Kalau substansinya adalah meminta semua pihak menghentikan upaya adu domba dan menjaga persatuan nasional, lalu di mana letak upaya mengadu dombanya ?” kata Kristiono.

Ia menilai polemik tersebut tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik menjelang kemungkinan perubahan konfigurasi di tubuh PSI. Terlebih, belakangan muncul spekulasi mengenai nama Budi Arie yang digadang-gadang untuk mengisi posisi Sekretaris Jenderal PSI.

“Jangan sampai kritik terhadap pernyataan Budi Arie sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap posisi politik Budi Arie ke depan. Kalau memang ada kekhawatiran bahwa Budi Arie akan masuk ke PSI dan memiliki pengaruh besar, itu harus disampaikan secara terbuka, jangan kemudian mencari pembenaran melalui potongan pernyataan,” tegasnya.

Kristiono mengatakan, politik memang selalu memiliki kepentingan dan kalkulasi. Namun, ia mengingatkan agar persaingan politik tidak berkembang menjadi upaya membangun persepsi negatif melalui framing terhadap pernyataan seseorang.

“Kalau Budi Arie memang sedang dipertimbangkan untuk menjadi Sekjen PSI, itu adalah dinamika politik yang wajar. Tetapi jangan karena isu tersebut kemudian setiap pernyataannya ditafsirkan sebagai ancaman atau manuver untuk menjauhkan Jokowi dari Prabowo,” katanya.

Budi Arie sendiri dalam pernyataannya juga menegaskan dukungan Projo terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran dan menyatakan bahwa persoalan bangsa saat ini membutuhkan persatuan nasional.

Ia juga belum memastikan dirinya akan menjadi Sekjen PSI dan menyerahkan keputusan terkait arah politik Jokowi kepada Jokowi sendiri.

Karena itu, Kristiono meminta PSI maupun kelompok politik lainnya tidak mudah menarik kesimpulan dari potongan video.

“Kalau kita ingin membangun demokrasi yang sehat, mari biasakan membaca dan mendengar pernyataan secara lengkap. Jangan sampai video dipotong, kemudian muncul kesimpulan seolah-olah seseorang sedang melakukan sesuatu yang justru bertentangan dengan pesan utamanya,” ujarnya.

Menurut Kristiono, hubungan Prabowo dan Jokowi seharusnya tidak terus-menerus dijadikan komoditas konflik politik.

“Yang harus dijaga sekarang adalah stabilitas pemerintahan dan persatuan nasional. Kritik boleh, berbeda pandangan boleh, tetapi jangan membangun narasi seolah-olah Prabowo dan Jokowi sedang bermusuhan tanpa dasar yang kuat,” katanya.

Ia menambahkan, jika benar Budi Arie nantinya mendapatkan posisi strategis di PSI, publik tentu akan menilai langkah tersebut dari kinerja dan sikap politiknya, bukan dari spekulasi.

“Biarkan publik menilai rekam jejak dan sikap politik Budi Arie. Jangan menghukumnya terlebih dahulu hanya karena dia disebut-sebut akan menjadi Sekjen PSI,” pungkas Kristiono.**

 

 

Editor : Eman Melayu