LensaKita.co.id — Dalam politik, garis antara kecerdasan strategi dan kelicikan sering kali begitu tipis hingga nyaris tak terlihat. Sosok Jusuf Kalla ( JK ) adalah contoh paling relevan untuk membaca ambiguitas itu.
Di satu sisi, ia dielu-elukan sebagai negosiator ulung—figur yang mampu menembus kebuntuan, meredakan konflik, dan mengambil keputusan cepat. Namun di sisi lain, justru di situlah kritik mulai menemukan pijakan, apakah semua itu murni strategi, atau ada dimensi manipulasi kekuasaan yang bekerja secara licik ?
Jusuf Kalla bukan tipe politisi yang bermain di panggung retorika. Ia bekerja dalam senyap, membangun pengaruh melalui jejaring, lobi, dan kalkulasi kekuasaan yang matang. Pola ini, dalam praktik politik modern, sering dibaca sebagai kekuatan.
Namun bagi sebagian kalangan, justru di sanalah letak problemnya, minim transparansi, dominasi peran informal, dan pengaruh yang tidak selalu bisa diawasi publik.
Dalam konteks ini, muncul analogi dengan Sengkuni tapi bukan sebagai tuduhan literal, tetapi sebagai simbol dari politik yang bergerak di balik layar yang sangat manipulatif dan penuh dengan drama. Analogi ini hidup bukan tanpa sebab, melainkan karena ada persepsi bahwa kekuasaan JK tidak selalu dijalankan secara terbuka.
Namun, menyederhanakan Jusuf Kalla sebagai “Sengkuni” juga berisiko menyesatkan dan siap siap di bully oleh fans nya JK. Sebab realitas politik tidak hitam-putih. Peran JK dalam berbagai proses perdamaian Atjeh misalnya menunjukkan bahwa strategi yang ia gunakan tidak selalu destruktif, justru menghasilkan stabilitas di Atjeh hingga saat ini.
Di titik inilah kritik terhadap JK seharusnya ditempatkan secara lebih jernih, bukan pada label “licik” atau “manipulatif” semata, tetapi pada pertanyaan yang lebih substansial, seberapa dendamnya JK pada Jokowi ? Seberapa besar pengaruh JK untuk mengdowngrade pengaruh Jokowi ?
Karena pada akhirnya, yang perlu diawasi bukan sekadar siapa tokohnya, tetapi bagaimana kelicikan dan drama itu bekerja.**
Sumber : Rilis *Pery Rinandar
Aktifis 98
