LensaKita.co.id — Ketika mata nasional tertuju pada pekatnya kabut asap di Sumatera dan Kalimantan, sebuah tragedi ekologis justru tengah menggerogoti wilayah paling timur Nusantara secara diam-diam.
Surga alam yang menjadi benteng terakhir bagi spesies eksotis seperti burung cenderawasih di tanah Papua, kini perlahan hangus menjadi abu akibat amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang luput dari panggung pemberitaan utama.
Fakta di lapangan menunjukkan eskalasi penyebaran titik api yang sangat mengkhawatirkan. Merujuk pada pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan, sepanjang periode Januari hingga Juli 2026, si jago merah telah melahap habis 25.838,53 hektare bentang alam di kawasan Papua Selatan.
Ironisnya, angka kerusakan lingkungan tersebut meroket tajam hingga lebih dari tiga kali lipat jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Sebagai perbandingan, sepanjang awal tahun 2025, luasan hutan yang terbakar di wilayah tersebut tercatat berada di angka 8.107,91 hektare.
Kabupaten Merauke menjadi wilayah penyumbang titik api terbesar sekaligus memikul beban kehancuran ekosistem terparah, yakni seluas 25.035,87 hektare.
Tren destruktif ini tak hanya terpusat di selatan, melainkan turut mengoyak Papua Tengah dengan 2.519,88 hektare lahan terbakar, disusul Papua Barat dengan luasan sekitar 2.486 hektare.
Petaka lingkungan ini jelas bukan sekadar perkara hilangnya tutupan vegetasi di atas peta satelit.
Hutan Papua merupakan urat nadi dan habitat krusial bagi berbagai satwa liar, di mana kelestarian burung cenderawasih sangat bergantung pada rimbunnya pepohonan untuk mencari makan, berlindung, hingga berkembang biak. Jika ruang hidup ini musnah, kepunahan satwa kebanggaan bangsa tersebut hanya tinggal menunggu waktu.
Lebih jauh, amukan karhutla ini juga memukul telak kelangsungan hidup masyarakat adat setempat. Kelompok rentan yang selama ini menggantungkan seluruh sumber pangan, roda ekonomi, hingga ruang ritual budaya mereka pada ekosistem hutan, kini dipaksa menghadapi ancaman hilangnya ruang hidup secara permanen.
Rentetan bencana ini pun mulai mengintai kondisi kesehatan fisik warga lokal. Di Manokwari, Papua Barat, temuan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merangkak naik menjadi 707 kasus pada pekan ke-39 tahun 2026, dari sebelumnya 626 kasus pada pekan ke-37.
Menilik skala kehancurannya, tanah Papua mendesak hadirnya intervensi dan penanganan karhutla yang sama seriusnya dengan wilayah barat Indonesia.**
Sumber : @Meilhat_Indo

