LensaKita.co.id — Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya semakin sering berada di ruang publik sebagai salah satu figur yang mengomunikasikan agenda dan kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Bukan hanya menyampaikan agenda Presiden, Teddy juga beberapa kali tampil memberikan penjelasan ketika pemerintah menghadapi isu yang membutuhkan klarifikasi langsung kepada masyarakat.
Founder dan Ketua Umum Gerakan Indonesia Gemilang, Sayed Junaidi Rizaldi ( SJR ) alias Pakcik, menilai pola kerja tersebut menunjukkan bahwa Teddy mulai menemukan karakter perannya sebagai Seskab.
Menurut Pakcik, posisi Seskab memang bukan sekadar persoalan administrasi kesekretariatan. Seorang Seskab harus mampu memastikan arahan Presiden diterjemahkan menjadi koordinasi pemerintahan yang berjalan efektif.
“Menurut saya, yang menarik dari Teddy adalah keberaniannya berada di depan ketika pemerintah membutuhkan penjelasan. Dia tidak hanya hadir sebagai pendamping Presiden, tetapi juga berusaha memastikan pesan dan agenda Presiden sampai kepada publik,” ujar Pakcik.
*Bukan Sekadar Seskab*
Pakcik mengatakan, kinerja seorang pejabat di lingkungan Istana seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa sering muncul di depan kamera. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan mengawal keputusan Presiden agar dapat diterjemahkan ke dalam kerja birokrasi.
Dalam sejumlah agenda, Teddy terlihat mendampingi Presiden dalam penanganan persoalan strategis, termasuk kebakaran hutan dan lahan.
Saat Presiden kembali meninjau penanganan karhutla di Sumatra pada Agustus 2026, Teddy menjelaskan bahwa arahan Presiden tidak berhenti pada pemadaman api, tetapi juga mencakup pembangunan sistem pencegahan agar persoalan tersebut tidak terus berulang.
“Teddy terlihat mencoba menerjemahkan arahan Presiden menjadi pesan yang lebih operasional. Ini penting karena pemerintahan tidak boleh berhenti pada instruksi. Harus ada pengawalan, koordinasi dan evaluasi,” kata Pakcik.
Peran tersebut juga terlihat dalam sejumlah agenda nasional lainnya. Pada September 2026, misalnya, Teddy menyampaikan agenda rapat terbatas Presiden mengenai rencana pendidikan negeri gratis dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.
Pakcik melihat keberanian tampil memberikan penjelasan menjadi salah satu karakter yang membedakan Teddy dari pejabat pemerintah yang memilih lebih sedikit tampil ketika kebijakan menghadapi kritik publik.
Penilaian serupa sebelumnya disampaikan Founder sekaligus Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi. Ia menilai Teddy termasuk figur yang aktif membangun komunikasi publik mengenai agenda Presiden dan kerap tampil menjelaskan kebijakan pemerintah.
“Dalam pemerintahan, tentu tidak semua kebijakan akan langsung mendapatkan tepuk tangan. Ada kebijakan yang membutuhkan penjelasan, ada yang membutuhkan koreksi, bahkan ada yang berpotensi menimbulkan kontroversi,” ujar Pakcik.
Karena itu, menurutnya, pejabat yang bertanggung jawab menjelaskan kebijakan pemerintah kepada masyarakat memiliki fungsi penting.
“Kalau memang kebijakan itu merupakan keputusan Presiden, maka harus ada pejabat yang mampu menjelaskan dasar, tujuan dan konteksnya kepada publik. Jangan sampai ketika kebijakan dipersoalkan, semua orang justru mencari jarak,” katanya.
Persepsi publik terhadap kinerja Teddy juga tercermin dalam survei Indonesia Political Opinion (IPO) yang dirilis Agustus 2026. Dalam survei tersebut, Teddy berada di posisi kedua dalam kategori persepsi kinerja positif pejabat setingkat menteri dengan angka 33,5 persen.
Namun, Pakcik mengingatkan agar angka survei tidak dijadikan satu-satunya ukuran.
“Survei adalah salah satu indikator persepsi publik. Tetapi ukuran akhirnya tetap hasil kerja. Publik akan melihat apakah kebijakan pemerintah benar-benar memberikan manfaat, apakah koordinasi berjalan, dan apakah persoalan dapat diselesaikan,” katanya.
Menurutnya, tantangan Teddy ke depan justru semakin besar karena semakin dekat dengan pusat pengambilan keputusan berarti semakin besar pula tuntutan akuntabilitas.
“Semakin sering seseorang tampil membawa pesan Presiden, semakin besar pula tanggung jawabnya. Kalau komunikasinya keliru, dampaknya bukan hanya kepada dirinya, tetapi bisa ikut memengaruhi persepsi terhadap pemerintah,” ujar Pakcik.
*Menjadi Penghubung, Bukan Sekadar Juru Bicara*
Pakcik menilai posisi ideal Teddy adalah sebagai penghubung efektif antara Presiden, kementerian/lembaga dan publik.
“Jangan melihat Teddy hanya sebagai juru bicara informal Presiden. Fungsi Seskab jauh lebih strategis. Ia harus mampu memastikan keputusan Presiden memiliki jalur koordinasi yang jelas dan dilaksanakan oleh kementerian maupun lembaga terkait,” katanya.
Menurut dia, kekuatan seorang Seskab justru terletak pada kemampuan menghubungkan tiga hal, keputusan Presiden, kerja birokrasi dan komunikasi publik.
“Kalau tiga hal itu bisa berjalan bersama, maka Seskab bukan hanya menjadi pejabat administratif di sekitar Presiden, tetapi menjadi bagian penting dari mesin koordinasi pemerintahan,” kata Pakcik.
Ia menambahkan bahwa Teddy masih memiliki ruang yang sangat panjang untuk membuktikan kinerjanya.
“Yang harus dijaga adalah konsistensi. Jangan hanya berani tampil ketika situasi sedang panas. Tetapi juga harus berani memastikan persoalan selesai, melakukan evaluasi dan menyampaikan kepada publik apa yang sudah dikerjakan,” ujarnya.
Bagi Pakcik, pada akhirnya masyarakat tidak membutuhkan pejabat yang sekadar ramai di media.
“Yang dibutuhkan rakyat adalah pemerintah yang bekerja. Kalau Teddy bisa terus menunjukkan bahwa kehadirannya di sekitar Presiden memang menghasilkan koordinasi dan penyelesaian persoalan yang lebih cepat, maka publik sendiri yang akan memberikan penilaian,”tutup Pakcik.**
Editor : Eman Melayu
Penulis : Barong

