Turun Kelas? Sempat Pimpin Negara Dua Periode, Relawan Tak Rela Jokowi Cuma Jadi Bemper PSI!

oleh -24 Dilihat
oleh
Oplus_131072

LensaKita.co.id –– Wacana Joko Widodo menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali memunculkan perdebatan di kalangan pendukungnya.

Program Bocor Alus Politik Tempo mengungkap adanya kelompok relawan yang mendorong Jokowi memimpin PSI, sementara kelompok lainnya justru menilai langkah tersebut berisiko terhadap posisi Jokowi sebagai tokoh nasional.

Kelompok yang keberatan disebut berpandangan bahwa setelah dua periode memimpin Indonesia, Jokowi lebih tepat menjaga posisi sebagai tokoh bangsa ketimbang mengambil alih kepemimpinan partai politik.

Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan kemungkinan citra Jokowi semakin melekat pada kepentingan satu partai.
Pandangan itu bukan tanpa konteks.

Pada 2025, ketika wacana Jokowi menjadi Ketum PSI mencuat, Wakil Ketua Umum Projo Freddy Damanik juga pernah mengatakan PSI terlalu kecil untuk Jokowi dan mendorong opsi partai yang lebih besar atau bahkan membangun partai baru.

Namun, di kubu lain, ada pendukung yang melihat Jokowi justru dapat menjadi modal elektoral bagi PSI menghadapi Pemilu 2029. Sejumlah relawan sebelumnya bahkan menilai kepemimpinan Jokowi dapat membuat PSI menjadi kekuatan politik yang lebih besar.

Dukungan terhadap Jokowi juga memiliki dasar dalam sejumlah hasil survei. Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) pada Juni 2026, misalnya, menemukan 70,2 persen responden menilai kedekatan PSI dengan Jokowi dapat meningkatkan citra positif partai.

Namun, survei tersebut tidak menyimpulkan bahwa Jokowi sebagai ketua umum akan membuat PSI memperoleh kursi di Senayan seperti yang sudah ditargetkan sebelumnya.
Justru data elektoral menunjukkan tantangan PSI masih cukup besar.

Dalam survei LPI yang melibatkan 1.922 responden di 32 provinsi pada 10–17 Juni 2026, elektabilitas PSI disebut masih 1,9 persen, berada di bawah ambang batas parlemen 4 persen.

Wacana Jokowi menjadi ketua umum juga bukan pertama kali muncul. Pada 2025, nama Jokowi sempat masuk bursa calon ketum PSI. Namun, ia akhirnya tidak mendaftar dan Kaesang Pangarep kembali maju sebagai calon ketua umum.

Di sisi lain, Jokowi sendiri telah menyatakan dukungan penuh terhadap PSI dan mengatakan dirinya siap bekerja untuk partai tersebut. Dalam pernyataan yang dikutip CNA dari agenda Kongres PSI 2025, Jokowi bahkan mengatakan dirinya bisa berada di depan, belakang, atau tengah dalam membantu PSI.

Pada akhirnya, posisi Jokowi di PSI bukan sekadar soal siapa yang memimpin partai, tetapi juga soal seberapa jauh mantan presiden dua periode itu akan mengambil peran langsung dalam politik praktis.

Dorongan relawan dan data survei menunjukkan adanya ekspektasi terhadap pengaruh Jokowi, sementara kekhawatiran soal citra sebagai tokoh nasional tetap menjadi bagian dari perdebatan.**

 

 

 

 

Sumber : @Melihat_Indo