LensaKita.co.id –– Ketua Umum Barisan Suara Muda Indonesia (BASMI), Pery Rinandar, mengingatkan bahwa polarisasi politik di Indonesia sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan.
Mantan aktivis mahasiswa yang pernah menempuh pendidikan di UPN Veteran Jakarta dan terlibat dalam gerakan reformasi 1998 itu menilai seluruh elemen bangsa harus lebih berhati-hati agar perbedaan politik tidak berkembang menjadi perpecahan sosial yang mengancam keutuhan negara.
Menurut Pery, peringatan mengenai bahaya polarisasi politik yang disampaikan sejumlah tokoh nasional patut menjadi perhatian bersama. Ia menilai perdebatan politik yang terlalu tajam dan saling menegasikan antarkelompok dapat melemahkan persatuan nasional yang selama ini menjadi kekuatan utama Indonesia.
“Saya melihat polarisasi politik saat ini sudah masuk kategori lampu merah. Perbedaan pandangan politik adalah sesuatu yang wajar dalam demokrasi, tetapi ketika perbedaan itu berubah menjadi kebencian dan permusuhan antarsesama anak bangsa, maka yang terancam bukan lagi sekadar stabilitas politik, melainkan persatuan nasional,” kata Pery kepada wartawan, Senin (22/6/2026).
Pery mengatakan bahwa sejarah menunjukkan banyak negara mengalami kemunduran bahkan kehancuran karena gagal mengelola perbedaan politik secara bijaksana. Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang hanya bertujuan memperdalam konflik dan memperlebar jurang perpecahan.
“Kalau bangsa ini terus terpecah, tentu ada pihak-pihak yang akan diuntungkan. Negara-negara yang tidak ingin Indonesia maju bisa saja bertepuk tangan melihat rakyatnya saling bertikai. Padahal tantangan kita yang sesungguhnya adalah bagaimana membangun kemandirian ekonomi dan memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan global,” ujarnya.
“Musuh kita bukan sesama anak bangsa yang berbeda pilihan politik. Musuh kita adalah siapa pun yang ingin melemahkan Indonesia, mengeruk keuntungan tanpa memikirkan kepentingan rakyat, atau memanfaatkan perpecahan bangsa untuk kepentingan kelompok tertentu. Karena itu, persatuan harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Sebagai aktivis 98, Pery menegaskan bahwa reformasi yang diperjuangkan puluhan tahun lalu bukan untuk memecah belah bangsa, melainkan untuk menghadirkan demokrasi yang sehat, terbuka, dan tetap menjaga persaudaraan nasional.
“Kami memperjuangkan reformasi agar rakyat bebas menyampaikan pendapat, bukan agar rakyat saling membenci. Demokrasi harus menjadi sarana mencari solusi, bukan alat untuk memecah belah bangsa,” katanya.
Pery juga mengajak para elite politik, tokoh masyarakat, akademisi, dan generasi muda untuk lebih mengedepankan dialog serta semangat kebangsaan dalam menyikapi berbagai perbedaan yang ada.
“Merah Putih harus berada di atas semua kepentingan politik jangka pendek. Pilihan politik boleh berbeda, tetapi kecintaan kepada Indonesia harus tetap sama. Jangan sampai kita sibuk bertengkar sesama anak bangsa sementara tantangan yang lebih besar justru datang dari luar,” ujarnya.
Ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat menjadikan momentum saat ini sebagai kesempatan untuk memperkuat persatuan nasional dan mengakhiri praktik politik yang hanya mengandalkan sentimen permusuhan.
“Indonesia terlalu besar untuk dikorbankan oleh kepentingan politik sesaat. Kita harus menjaga persatuan, memperkuat solidaritas nasional, dan memastikan bahwa Merah Putih tetap berkibar dengan kuat di tengah berbagai tantangan zaman,” pungkas Pery.**
