Lensa kita.co.id — Semangat keberagaman dan pelestarian budaya terpancar kuat di Kota Bitung. Persatuan Organisasi Lintas Adat, Agama, dan Budaya (POLA) bersama 35 Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) menunjukkan sinergi luar biasa dengan menghadiri Upacara Adat Tulude yang diselenggarakan Pemerintah Kota Bitung.
Kegiatan tahunan yang sakral ini dipusatkan di Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Bitung dan diawali dengan kemeriahan Parade Tulude bertema “Marijo Torang Ba Jontra Baris Bergaya”.
Aksi parade dimulai pukul 14.00 WITA dengan titik start dari Patung Xaverius Dotulong. Rombongan yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum POLA, Puboksa Hutahean, bergerak menuju Kantor Wali Kota Bitung.
Setibanya di lokasi, peserta parade disambut hangat oleh
Hengky Honandar, SE (Wali Kota Bitung)
Randito Maringka, S.Sos (Wakil Wali Kota Bitung)
Kehadiran puluhan ormas ini merupakan simbol penghormatan terhadap tradisi leluhur masyarakat Nusa Utara yang terus dijaga oleh pemerintah dan warga Kota Bitung sebagai warisan budaya tak benda yang berharga.

Makna Syukur dan Perekat Sosial
Upacara Tulude bukan sekadar seremoni, melainkan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas penyertaan di tahun 2025 serta doa permohonan keselamatan dan kesejahteraan untuk tahun 2026.
Ketua Umum POLA, Puboksa Hutahean, yang tampil elegan mengenakan pakaian adat Nusa Utara, menekankan bahwa budaya adalah fondasi stabilitas daerah.
“Adat dan budaya adalah perekat sosial. Jika dirawat bersama, persatuan akan semakin kuat dan kehidupan masyarakat tetap harmonis,” ujar Puboksa di sela-sela kegiatan.
Ia juga menambahkan bahwa penganugerahan gelar adat dalam rangkaian Tulude ini merupakan bentuk penghargaan atas komitmen menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Bitung.
Dalam kesempatan tersebut, Puboksa memberikan apresiasi khusus kepada duet kepemimpinan Wali Kota Hengky Honandar dan Wakil Wali Kota Randito Maringka. Menurutnya, konsistensi pemerintah dalam membangun komunikasi tanpa sekat perbedaan adalah kunci kondusivitas kota.
“Kepemimpinan yang membuka ruang komunikasi tanpa membeda-bedakan latar belakang adalah modal penting untuk menciptakan Kota Bitung yang aman dan kondusif,” pungkasnya.
Dengan terlaksananya upacara ini, Kota Bitung kembali mengukuhkan diri sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi dan nilai-nilai luhur adat demi kemajuan bersama.**
Penulis : Dave
