LensaKita.co.id – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi mencabut sanksi penutupan SPPG Gowa Pattallassang 2 setelah hasil uji lab mengungkap plot twist mengejutkan: biang kerok bakteri yang membuat belasan anak bertumbangan ternyata bersarang di fasilitas cuci tangan sekolah, bukan pada makanan!
Sebelumnya, operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ini terpaksa ditangguhkan menyusul insiden pada 24 September 2026. Saat itu, 11 dari total 2.660 siswa penerima manfaat dilaporkan mengalami gangguan pencernaan usai menyantap hidangan. Namun, tudingan miring terhadap kualitas program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini akhirnya terpatahkan secara telak.
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, menegaskan bahwa hasil pengujian mikrobiologi membebaskan SPPG dari segala dugaan kelalaian pengolahan makanan.
“Bahwa hasil pengujian mikrobiologi, seluruh sampel makanan yang diuji di laboratorium dinyatakan layak konsumsi dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya atau beracun,” tegas Ketut melalui pernyataan resmi di akun TikTok BGN, Minggu (27/9/2026).
Lantas, dari mana bakteri penyebab sakit perut itu berasal? Ketut mengungkapkan fakta ironis bahwa higienitas fasilitas sekolah yang justru menjadi masalah utamanya.
“Sumber bakteri tersebut dinyatakan berdasarkan hasil pemeriksaan dari tempat cuci tangan sekolah sebelum makan anak-anak,” jelasnya.
Menyusul keluarnya hasil laboratorium yang membersihkan nama SPPG Gowa Pattallassang 2 dari isu makanan beracun, BGN langsung memberikan lampu hijau agar dapur tersebut kembali beroperasi normal menyajikan makanan bergizi bagi para siswa.**
Sumber : @Melihat_Indo

