*Merawat Persatuan, Menguatkan Indonesia*

oleh -2 Dilihat
oleh

LensaKita.co.id — Demokrasi memberikan ruang bagi setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat. Kritik adalah bagian penting dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, kritik yang sehat harus bertujuan memperbaiki, bukan menjatuhkan.

Ketika kritik berubah menjadi narasi kebencian, fitnah, dan upaya menebarkan ketakutan, yang dirugikan bukan hanya pemerintah, melainkan seluruh rakyat Indonesia.

Belakangan ini, ruang publik dipenuhi oleh pertarungan politik yang seolah tidak pernah berakhir. Perbedaan pendapat yang semestinya menjadi kekuatan demokrasi justru berubah menjadi polarisasi.

Setiap kebijakan dianggap salah, setiap langkah pemerintah dicurigai, setiap kritik juga dicurigai sebagai upaya menjatuhkan pemerintah, bahkan sebelum hasilnya dapat dinilai secara objektif. Yang berkembang bukan lagi budaya berdiskusi, melainkan budaya saling menyerang.

Yang lebih memprihatinkan, sebagian narasi yang dibangun seolah-olah ingin menanamkan rasa takut di tengah masyarakat. Seakan-akan negara sedang berada di ambang kehancuran, seolah-olah tidak ada lagi harapan, tidak ada lagi kepastian, dan tidak ada masa depan.

Narasi seperti ini bukan hanya melemahkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, tetapi juga menciptakan rasa saling curiga di antara sesama anak bangsa.

Padahal, bangsa yang besar dibangun di atas rasa percaya. Kepercayaan kepada sesama warga negara, kepada institusi, dan kepada proses demokrasi yang telah disepakati bersama. Jika setiap hari masyarakat disuguhi pesan-pesan yang membangkitkan kecemasan, kebencian, dan pesimisme, maka energi bangsa akan habis untuk saling mencurigai, bukan untuk bekerja dan berkarya.

Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada pemimpin yang selalu benar. Kesalahan pasti ada, dan ketika itu terjadi, kritik harus disampaikan secara santun, berdasarkan fakta, serta menawarkan solusi. Yang kita perlukan adalah koreksi yang membangun, bukan upaya “mengamputasi” kepercayaan publik melalui bahasa-bahasa yang provokatif, satir yang merendahkan, atau tuduhan yang hanya memperkeruh suasana.

Pemerintah yang memperoleh mandat dari rakyat perlu diawasi, tetapi juga perlu diberi ruang untuk bekerja. Jangan sampai setiap langkah yang sedang diupayakan terus-menerus diganggu oleh kegaduhan politik yang tidak produktif. Biarkan program berjalan, biarkan hasilnya terlihat, lalu lakukan evaluasi secara jujur dan objektif. Itulah esensi demokrasi yang dewasa. Yang benar ya benar, yang salah ya salah.

Kita juga perlu mengingat bahwa pertengkaran politik yang berkepanjangan menghabiskan energi bangsa. Waktu, pikiran, dan perhatian masyarakat tersita untuk memperdebatkan hal-hal yang sering kali tidak menghasilkan solusi. Padahal, tantangan nyata bangsa ini jauh lebih besar, meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperbaiki pendidikan, menciptakan lapangan kerja, menjaga persatuan, dan membangun daya saing Indonesia.

Mencintai Indonesia bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Sebaliknya, cinta kepada bangsa diwujudkan dengan menjaga persatuan, memberikan kritik yang bermartabat, serta menciptakan suasana yang kondusif agar pembangunan dapat berjalan dengan baik. Kepentingan bangsa harus selalu ditempatkan di atas kepentingan kelompok, golongan, maupun kepentingan politik sesaat.

Mari kita hentikan kebiasaan menyebarkan kebencian dan ketakutan. Mari kita bangun budaya dialog yang beradab, budaya kritik yang cerdas, dan budaya saling menguatkan. Karena ketika kita terus bertengkar, yang terkuras bukan hanya emosi kita, melainkan juga energi dbangsa.

Dan ketika energi bangsa habis untuk saling menyerang, yang paling merugi bukan pemerintah, bukan kelompok politik tertentu, melainkan Indonesia, rumah besar yang kita cintai bersama.**

 

 

*Sayed Junaidi Rizaldi*

**1. Ketua Umum Ikatan Alumni UPN Veteran Jakarta*

**2. Founder Indonesia Insight Journalist Network*