LensaKita.co.id — Hoegeng Awards 2026 kembali mengangkat lima anggota Polri yang dinilai menunjukkan keteladanan dalam menjalankan tugas. Bagi Rahadian Yuliusman, Direktur Eksekutif Center for Research and Social Analysis (CRSA) sekaligus aktivis 98, penghargaan tersebut semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan.
Menurut Rahadian, esensi Hoegeng Awards justru terletak pada bagaimana keteladanan seorang polisi dapat ditularkan menjadi budaya di institusi kepolisian.
“Hoegeng Awards jangan hanya menjadi panggung untuk lima polisi teladan. Ini harus menjadi alat motivasi agar semakin banyak anggota Polri yang berani mengambil pelajaran dari Hoegeng, jujur, sederhana, berintegritas dan tidak menggunakan kewenangan untuk kepentingan pribadi,” kata Rahadian.
Ia mengatakan, nama Hoegeng memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang mantan Kapolri. Hoegeng Iman Santoso telah menjadi simbol integritas dalam sejarah Kepolisian Indonesia.
“Hoegeng mengajarkan bahwa jabatan itu sementara, tetapi integritas akan dikenang jauh lebih lama. Karena itu, kalau hari ini ada polisi yang berprestasi dan berintegritas, jangan hanya diberikan piagam. Jadikan mereka role model bagi anggota Polri lainnya,” ujarnya.
Satire Gus Dur Harus Menjadi Cermin
Rahadian kemudian mengutip satire Presiden keempat RI, Gus Dur, yang menurutnya sampai sekarang masih relevan sebagai cermin bagi institusi kepolisian.
“Gus Dur pernah membuat perumpamaan yang sangat terkenal, polisi yang jujur itu cuma dua, Hoegeng dan polisi tidur. Itu memang satire, tetapi jangan dianggap sekadar lelucon. Di dalamnya ada kritik sosial yang sangat dalam terhadap persepsi masyarakat tentang polisi,” kata Rahadian.
Menurutnya, tantangan Polri hari ini adalah membuktikan bahwa ungkapan Gus Dur tersebut sudah tidak relevan lagi.
“Kita harus membuktikan bahwa polisi jujur bukan cuma Hoegeng dan polisi tidur. Harus ada ribuan Hoegeng baru di tubuh Polri. Itu pekerjaan rumahnya.”
Rahadian menilai, semakin banyak polisi yang mendapatkan apresiasi karena integritas, semakin kuat pula pesan bahwa perilaku baik dalam institusi negara bukan sesuatu yang sia-sia.
“Jangan sampai anggota yang bekerja lurus merasa kalah dengan mereka yang pandai bermain di wilayah abu-abu. Polisi yang berintegritas harus dibuat merasa bahwa negara menghargai mereka.”
Aktivis 98 itu juga menilai reformasi kepolisian tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan penghukuman terhadap anggota yang melanggar.
Menurutnya, institusi juga harus membangun sistem penghargaan yang mampu membuat integritas menjadi sesuatu yang memiliki nilai dan prestise.
“Kalau yang salah kita hukum, itu memang kewajiban. Tetapi yang benar juga harus diberi ruang. Reformasi institusi tidak cukup dengan menghukum yang buruk. Kita juga harus memperbanyak contoh tentang yang baik.”
Karena itu, Rahadian berharap kelima penerima Hoegeng Awards 2026 tidak berhenti sebagai nama yang muncul dalam pemberitaan.
Mereka, kata dia, harus diberi ruang untuk berbagi pengalaman, menjadi mentor, bahkan menjadi bagian dari pendidikan karakter bagi calon-calon anggota Polri.
“Bayangkan kalau pengalaman polisi teladan ini masuk ke lembaga pendidikan kepolisian. Anak-anak muda yang baru masuk Polri belajar bahwa ukuran keberhasilan seorang polisi bukan hanya pangkat dan jabatan, tetapi seberapa besar kepercayaan masyarakat yang berhasil dia jaga. Itu jauh lebih penting,” katanya.
Rahadian menegaskan bahwa polisi memiliki kewenangan besar dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, semakin besar kewenangan, semakin tinggi pula tuntutan etik dan integritasnya.
“Polisi memiliki kewenangan untuk menggunakan kekuatan negara. Tetapi kekuatan terbesar polisi sesungguhnya bukan senjata, bukan seragam, bukan pangkat. Kekuatan terbesar polisi adalah kepercayaan masyarakat.”
Menurut dia, ketika kepercayaan publik kuat, polisi akan lebih mudah menjalankan tugas penegakan hukum. Sebaliknya, ketika kepercayaan runtuh, sebesar apa pun kewenangan yang dimiliki akan selalu menghadapi persoalan legitimasi sosial.
Karena itu, Hoegeng Awards, kata Rahadian, harus dipandang sebagai bagian dari upaya membangun kembali kepercayaan tersebut.
“Jadikan Hoegeng Awards sebagai gerakan moral, bukan sekadar acara penghargaan. Setiap tahun boleh memilih lima polisi teladan, tetapi target besarnya harus jauh lebih besar: melahirkan ratusan, ribuan, bahkan sebanyak mungkin polisi yang menjadikan integritas sebagai jalan hidup,” ujarnya.
Rahadian pun memberikan pesan kepada pimpinan Polri agar jangan hanya mencari polisi yang hebat dalam operasi atau penindakan.
“Carilah polisi yang ketika memiliki kesempatan menyalahgunakan kewenangan, dia memilih tidak melakukannya. Carilah polisi yang ketika berhadapan dengan rakyat kecil, tetap menghormati martabatnya. Dan carilah polisi yang ketika tidak ada kamera, tetap bekerja dengan benar. Itulah sesungguhnya polisi teladan.”
Ia menilai, di era media sosial, masyarakat semakin mudah melihat sekaligus menilai perilaku aparat. Karena itu, standar etik kepolisian juga harus semakin tinggi.
“Publik sekarang tidak hanya melihat hasil penindakan. Publik melihat bagaimana polisi berbicara, bagaimana memperlakukan masyarakat, bagaimana menggunakan kewenangan dan bagaimana mempertanggungjawabkan tindakannya.”
Rahadian berharap semangat Hoegeng tidak berhenti pada romantisme terhadap sosok polisi masa lalu.
“Hoegeng jangan dijadikan patung yang hanya kita hormati. Jadikan Hoegeng sebagai standar yang harus kita kejar.”
Menurutnya, ukuran keberhasilan Hoegeng Awards pada akhirnya bukan berapa banyak penghargaan yang diberikan setiap tahun.
“Ukuran keberhasilannya justru ketika suatu hari nanti kita tidak lagi bertanya apakah masih ada polisi yang jujur. Karena jawabannya sudah jelas: ada banyak. Mereka ada di setiap jenjang, di setiap daerah, dan mereka bekerja karena integritas, bukan karena ingin dipuji.”
Rahadian menutup dengan satu kalimat yang menurutnya harus menjadi semangat Hoegeng Awards:
“Jangan sampai polisi jujur hanya Hoegeng dan polisi tidur. Indonesia membutuhkan ribuan Hoegeng baru. Dan tugas kita semua adalah memastikan mereka tumbuh, dihargai, dan diberi ruang untuk mengabdi.”**
Sumber : Rilis
