Jalan Nasional Dibiarkan Rusak, Warga Rogoh Kocek Rp1 Miliar saat Pemerintah Gencar Bangun Kopdes

oleh -17 Dilihat
oleh
Oplus_131072

LensaKita.co.id — Akses Jalan dan Jembatan Enang-Enang di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Aceh, akhirnya kembali dapat dilalui setelah hampir satu tahun terputus akibat longsor yang dipicu bencana hidrometeorologi pada November 2025.

Menariknya, perbaikan jalur nasional yang menjadi pintu masuk menuju Dataran Tinggi Gayo itu bukan dibiayai pemerintah, melainkan hasil gotong royong masyarakat yang berhasil mengumpulkan dana hingga Rp1 miliar.

Peresmian pembukaan kembali jalan tersebut berlangsung pada Kamis (2/7/2026). Momen itu diwarnai suasana haru ketika inisiator perbaikan jalan, Sahrial Abadi, tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan rasa syukur di hadapan warga.

“Jalan hari ini resmi kita buka, proses pengaspalan dan perbaikan jembatan sudah selesai. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu,” ujar Sahrial.

Prosesi pembukaan jalan dilakukan dengan pemotongan pita yang didampingi tokoh ulama Aceh, Muhammad Yusuf Nasir. Acara berlangsung khidmat dengan doa bersama dan lantunan selawat yang diikuti antusias oleh ratusan warga.

Sahrial mengungkapkan, dana yang berhasil dihimpun masyarakat mencapai sekitar Rp1 miliar. Dana tersebut murni berasal dari donasi warga tanpa menggunakan anggaran pemerintah, baik APBN, APBA maupun APBK.

“Saat ini uang sejumlah Rp526 juta sudah terpakai, masih ada sisa sekitar Rp555 juta lagi yang belum terpakai nanti untuk pembangunan dinding penahan jalan, tempat ibadah dan fasilitas lainnya,” jelasnya.

Menurut Sahrial, perbaikan Jalan Enang-Enang bukan sekadar membuka kembali akses transportasi, tetapi juga menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong masyarakat Gayo ketika menghadapi lambatnya penanganan infrastruktur oleh pemerintah.

Inisiatif swadaya itu dimulai sejak akhir Mei 2026 ketika warga menyewa alat berat untuk membersihkan material longsor. Selain mengumpulkan dana tunai, masyarakat juga bergotong royong menyediakan bahan bakar minyak (BBM) guna mendukung operasional ekskavator.

Sebelumnya, warga terpaksa menggunakan jalur alternatif Simpang Lancang–Wih Porak yang dinilai sempit, rusak, dan kerap menimbulkan kemacetan panjang. Kondisi tersebut membuat aktivitas ekonomi masyarakat, terutama distribusi hasil pertanian, terganggu.

Di tengah proses perbaikan, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh> sempat menghentikan sementara penggunaan Jalan Enang-Enang dengan alasan keselamatan. Kepala BPJN Aceh, Zulkarnain, saat itu meminta masyarakat menggunakan jalur alternatif Wer Lah sembari menunggu peningkatan kualitas jalan.

Namun, kebijakan tersebut menuai kritik dari masyarakat. Gelombang protes bahkan disertai tuntutan agar Kepala BPJN Aceh dicopot dari jabatannya. Menyikapi polemik tersebut, BPJN kembali mendatangi lokasi dan memberikan klarifikasi.

“Sebenarnya yang saya sampaikan kemarin bukan menutup total Jalan Enang-Enang. Yang kami maksud hanya kendaraan dengan muatan berlebih yang tidak diperbolehkan melintas. Jadi jangan salah mengartikan. Saya meminta maaf,” kata Zulkarnain.

Kembalinya akses Jalan Enang-Enang disambut gembira oleh masyarakat. Salah seorang pedagang sayur dan buah di Kecamatan Wih Pesam, Halidin, mengaku pembukaan jalan tersebut sangat membantu aktivitas perdagangan karena memangkas waktu perjalanan menuju ibu kota Provinsi Aceh.

“Alhamdulillah, saya saja yang saat itu tidak berada di lokasi peresmian merasa terharu dan meneteskan air mata melihat prosesi pemotongan pita oleh Pak Sahrial,” ujarnya.

Halidin berharap pemerintah menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran agar penanganan infrastruktur pascabencana dapat dilakukan lebih cepat. Menurutnya, kerusakan jalan yang dibiarkan terlalu lama bukan hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada perekonomian dan menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.**

 

 

Sumber : @Melihat_Indo