LensaKita.co.id — Sorotan terhadap kondisi keuangan dan layanan PT PLN (Persero) memang sah disampaikan publik. Namun, menjadikan Direktur Utama Darmawan Prasodjo sebagai satu-satunya pihak yang harus disalahkan juga perlu dilihat secara lebih objektif dan proporsional.
Utang besar yang dimiliki PLN bukan lahir dalam satu malam, apalagi semata-mata akibat kepemimpinan saat ini. Sebagai perusahaan strategis negara, PLN selama puluhan tahun menjalankan proyek-proyek besar ketenagalistrikan nasional, mulai dari pembangunan pembangkit, transmisi, hingga elektrifikasi desa yang membutuhkan pembiayaan jumbo.
Sebagian besar utang tersebut justru digunakan untuk memastikan seluruh rakyat Indonesia, termasuk daerah terpencil, mendapatkan akses listrik.
Di sisi lain, blackout yang terjadi di Sumatera tentu harus dievaluasi serius. Tetapi gangguan sistem kelistrikan tidak bisa langsung disimpulkan sebagai bukti kegagalan total seorang Darmawan.
Sistem kelistrikan nasional sangat kompleks, melibatkan faktor teknis, cuaca, jaringan transmisi, hingga kondisi pembangkit di berbagai wilayah. Bahkan negara maju sekalipun masih mengalami blackout sesekali.
Publik juga perlu melihat capaian PLN beberapa tahun terakhir. Di bawah kepemimpinan Darmawan Prasodjo, PLN mendorong transformasi digital, mempercepat transisi energi, memperluas penggunaan energi baru terbarukan, hingga menjaga tarif listrik tetap stabil di tengah tekanan ekonomi global. Itu bukan pekerjaan kecil.
Karena itu, kritik terhadap PLN sebaiknya diarahkan untuk perbaikan sistem dan penguatan pengawasan, bukan sekadar membangun opini pencopotan pejabat setiap kali terjadi gangguan. Evaluasi tentu penting, tetapi keputusan besar seperti pergantian Dirut harus didasarkan pada audit menyeluruh, bukan tekanan opini sesaat.
Dalam konteks kepemimpinan BUMN, yang dibutuhkan bukan hanya mencari kambing hitam, melainkan memastikan solusi konkret agar pelayanan listrik nasional semakin andal dan stabil untuk rakyat Indonesia.
Sumber : *Sayed Junaidi Rizaldi
Ketua Umum Rembuk Nasional Aktifis 98 & Ketua Umum Ikatan Alumni UPN Veteran Jakarta
Editor : Eman Melayu
