LensaKita.co.id — Suasana hening , jika tidak mau dikatakan terpukau, Aula Barat Institut Teknologi Bandung Kamis 5 Maret 2026, terkait Pernyataan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang menyoroti pertanyaan publik tentang berapa lama waktu yang harus diberikan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menunaikan janji-janji politiknya sesungguhnya membuka perspektif baru dalam membaca dinamika demokrasi Indonesia.
Dasco mengajak publik membalik pertanyaan tersebut, bukan sekadar berapa lama presiden bekerja, tetapi berapa lama bangsa ini mampu bersatu untuk memberikan ruang bagi agenda perubahan berjalan secara efektif.
Suatu pernyataan yang tajam dan “menusuk” jantung rasanya, bahwa sudah sedalam itu “retak” jika tidak mau kita katakan sudah pecah berkeping-keping rasa ‘menguatkan” dalam rangka merajut merah putih.
Kembali lagi dalam sistem demokrasi, pergantian kepemimpinan selalu membawa ekspektasi tinggi. Namun, sejarah menunjukkan bahwa transformasi kebijakan tidak pernah terjadi secara instan.
Presiden membutuhkan stabilitas politik, dukungan kelembagaan, serta kepercayaan publik agar program-program strategis dapat berjalan tanpa terganggu oleh polarisasi yang berlarut.
Di sinilah relevansi seruan seorang Dasco. Persatuan nasional bukan sekadar slogan, melainkan prasyarat bagi keberhasilan pemerintahan. Tanpa stabilitas sosial dan politik, bahkan agenda pembangunan yang paling merakyat sekalipun dapat terhambat oleh tarik-menarik kepentingan, untuk menegaskan kembali komitmen kita meminjam bahasa Prof Sufmi Dasco Ahmad, bahwa kita butuh persatuan nasional, jangan terjebak pada pusaran saling membenci dan memaki, kita harus kompak.
Oleh karena itu, pertanyaan tentang waktu seharusnya tidak hanya ditujukan kepada presiden, tetapi juga kepada masyarakat sipil, elite politik, dan seluruh elemen bangsa.
Seberapa cepat kita mampu meninggalkan kompetisi politik pasca-pemilu dan kembali pada satu tujuan bersama: membangun Indonesia, titipan anak cucu kita di masa mendatang.
Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tidak hanya ditentukan oleh kapasitas pemerintahannya, tetapi juga oleh kedewasaan politik bangsa ini dalam menjaga persatuan. Sebab dalam sejarah banyak negara, kemajuan sering kali lahir bukan hanya dari pemimpin yang kuat, tetapi dari masyarakat yang mampu bersatu memberi kesempatan bagi perubahan untuk bekerja.
Sumber : *Sayed Junaidi Rizaldi ( SJR )
Ketua Umum Gerakan Indonesia Gemilang
Eman Melayu
