LensaKita.co.id — Analis Politik Senior Boni Hargens mendukung penuh pernyataan dan penegasan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad soal Presiden Prabowo Subianto hanya membutuhkan satu hal dari seluruh elemen bangsa, termasuk masyarakat sipil, yakni persatuan nasional. Seruan ini disampaikan Dasco sebagai landasan utama agar program-program prioritas pemerintah dapat terwujud demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
“Semangat persatuan yang digelorakan pak Sufmi Dasco Ahmad bukan sekadar kebutuhan domestik, melainkan adalah kekuatan fundamental yang dibutuhkan bangsa Indonesia hari ini di tengah tekanan dan ketidakpastian global yang semakin kompleks,” ujar Boni Hargens kepada wartawan, Jumat (6/3/2026).
Boni menyoroti dua krisis geopolitik besar yang tengah mengguncang tatanan dunia, yakni perang di kawasan Timur Tengah yang terus memanas dan konflik Rusia-Ukraina yang hingga kini belum menemukan jalan penyelesaian. Menurut Boni, kedua krisis ini tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga mengimbas seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, melalui berbagai saluran seperti kenaikan harga komoditas, gangguan rantai pasok global, fluktuasi nilai tukar mata uang, hingga ketidakstabilan pasar keuangan internasional.
“Konflik Timur Tengah yang terus membara di kawasan ini berdampak langsung pada harga energi global dan mengancam stabilitas ekonomi negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Perang Rusia-Ukraina yang belum usai ini mengganggu pasokan pangan dan energi dunia, memicu inflasi global, dan memaksa setiap negara untuk memperkuat ketahanan nasionalnya masing-masing,” jelas Boni.
Indonesia, kata Boni, menghadapi tekanan eksternal yang nyata, yakni fluktuasi harga, gangguan rantai pasok, dan tekanan fiskal yang menuntut respons pemerintah yang cepat, tepat, dan didukung penuh oleh rakyat. Pada titik ini, kata Boni, relevansi persatuan nasional menjadi sangat mendesak.
“Pemerintah tidak dapat menghadapi tantangan yang begitu kompleks dan berlapis sendirian. Dukungan aktif, tulus, dan terorganisir dari masyarakat sipil adalah bahan bakar yang menggerakkan mesin pemerintahan untuk terus bekerja keras demi kepentingan seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali,” tandas Boni Hargens.
Boni Hargens menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membutuhkan dukungan nyata dari masyarakat sipil dalam menghadapi tantangan yang kompleks, sekaligus mewujudkan agenda-agenda pemerintahan yang dirancang untuk menciptakan kebaikan bersama bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Dukungan ini bukan berarti bersikap pasif atau buta terhadap kebijakan yang ada, melainkan berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dalam proses berbangsa dan bernegara,” tutur dia.
Boni menjelaskan tiga program utama yang butuh didukung yakni ketahanan pangan, pembanguan infrastruktur dan penguatan pelayanan publik di sektor pendidikan dan kesehatan. Program swasembada pangan yang menjadi prioritas Presiden Prabowo membutuhkan dukungan masyarakat dari hulu ke hilir, mulai dari petani, pelaku usaha agribisnis, hingga konsumen yang bijak.
Menurut Boni Hargens, konektivitas yang merata dari Sabang sampai Merauke adalah prasyarat bagi pemerataan kesejahteraan. Setiap proyek infrastruktur yang berjalan lancar, kata dia, adalah buah dari iklim persatuan yang terjaga.
“Kualitas pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik yang lebih baik hanya dapat tercapai apabila seluruh komponen bangsa, pemerintah dan masyarakat sipil, bekerja dalam satu ritme yang harmonis dan saling mendukung,” tutur dia.
Boni menegaskan, seruan persatuan nasional yang disampaikan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad bukanlah imbauan yang lahir dari kekosongan. Dasco, kata dia, memberikan respons yang jernih terhadap tantangan nyata yang dihadapi bangsa Indonesia, yakni fragmentasi sosial yang semakin dalam di ruang publik digital, tekanan geopolitik global yang tak kunjung mereda, dan kebutuhan mendesak untuk memastikan program-program kesejahteraan rakyat dapat terwujud dalam waktu yang sesingkat mungkin.
Dukungan Boni Hargens sebagai analis politik senior memperkuat keyakinan bahwa persatuan nasional bukan sekadar slogan, melainkan strategi kebangsaan yang paling rasional dan paling efektif untuk dijalankan pada momen ini.
“Dengan persatuan, kritik menjadi produktif, ide menjadi terarah, dan sumbangsih menjadi bermakna. Tanpa persatuan, semuanya hanya akan menjadi kebisingan yang menguras energi bangsa tanpa menghasilkan perubahan yang nyata. Menjaga harmoni bukan berarti menyeragamkan pendapat, melainkan menyatukan tekad untuk mencapai tujuan yang sama, Indonesia yang adil dan makmur. Untuk itu, dalam menyampaikan kritik diperlukan data, disertai empati, dan tawaran solusi, bukan dengan caci maki yang hanya melukai dan memecah belah sesama anak bangsa,” imbuh Boni Hargens.
Karana itu, kata Boni, ajakan Dasco agar masyarakat sipil untuk memberikan kontribusi konkret sesuai kapasitas masing-masing, bukan sekadar wacana, sebagai wujud tanggung jawab warga negara yang sejati kepada bangsa dan negara. Dengan persatuan nasional yang kokoh, kata dia, program kesejahteraan Presiden Prabowo dapat terwujud dan seluruh rakyat Indonesia dapat merasakan buahnya secara adil dan merata.
“Persatuan nasional adalah investasi terbaik yang dapat diberikan masyarakat sipil kepada bangsa. Mari bersatu, bukan untuk satu golongan, tetapi untuk seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Boni Hargens.
Sebelumnya, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menegaskan Presiden Prabowo Subianto hanya membutuhkan persatuan nasional untuk mewujudkan program-program prioritas yang mendatang kesejahteraan masyarakat. Karena itu, Dasco mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya masyarakat sipil untuk bersatu dan kompak mendukung pemerintahan Prabowo Subianto merealisasikan janji kesejahteraan untuk rakyat.
“Kita perlu persatuan nasional dan sumbangsih yang bukan omon-omon, itu yang kita minta kepada kawan-kawan masyarakat sipil sekalian,” ujar Dasco dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
Dasco menilai situasi saat ini, masyarakat sipil tidak kompak dan saling mencaci maki satu sama lain terutama di media sosial. Menurut Dasco, situasi tersebut tidak sehat lagi bagi bangsa Indonesia termasuk langkah-langkah Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan dan merealisasikan programnya.
“Pada hari ini masyarakat sipil kita tidak kompak, masyarakat sipil kita satu sama lain saling kemudian mencaci, satu sama lain kemudian mempertanyakan kebijakan pimpinan pemerintahan yang tidak sehat, di medsos itu saya lihat sudah tidak sehat,” tandas dia.
Dasco menegaskan, Prabowo Subianto membutuh satu dari masyarakat sipil, yakni persatuan nasional. Menurut Dasco, semangat persatuan nasional bukan meniadakan kritik, tetapi membuka bagi kritik-kritik yang konstruktif dan tidak mendiskreditkan satu sama lain.
“Kalau kita tanya, Prabowo hanya perlu satu, persatuan nasional, baik dalam mengkritisi, baik dalam memberikan ide, maupun kemudian sumbangsih yang nyata,” tutur dia.
Karena itu, Dasco mengajak masyarakat sipil memperkuat persatuan nasional untuk memberikan ruang bagi pemerintahan Prabowo Subianto mewujudkan program-program kesejahteraan rakyat.
“Berapa lama Prabowo diberikan waktu untuk kemudian mewujudkan janji-janjinya, kan kira-kira begitu. Saya justru akan bertanya kepada kawan-kawan sekalian, berapa lama kawan-kawan masyarakat sipil memberikan persatuan nasional kepada Prabowo agar dia punya waktu untuk bisa mewujudkan janji-janjinya buat kesejahteraan rakyat,” pungkas Dasco.**
Sumber : Boni Hargens Pengamat Politik UI
Eman Melayu
