Perbaikan Belum Tuntas, Jalan Nasional Lembah Anai Tiadakan One Way Saat Lebaran 2026

oleh -23 Dilihat
oleh
Oplus_131072

LensaKita.co.id -– Perbaikan ruas jalan nasional Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat yang terkena dampak bencana hidrometeorologi pada akhir November tahun lalu, ternyata tidak berhasil diselesaikan menjelang Lebaran 2026.

Terkait dengan hal itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) memastikan sistem satu arah (one way) pada jalur Padang–Bukittinggi tidak akan diberlakukan pada masa libur Idulfitri tahun ini.

“Mengingat belum tuntasnya perbaikan jalan Lembah Anai, maka kebijakan penerapan sistem one way kita tiadakan pada tahun ini,” tegas Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi saat meninjau langsung progres perbaikan jalan Lembah Anai di Kabupaten Tanah Datar, Senin (16/2/2026) dikutip dari rilis Pemprop Sumbar.

Selain meniadakan sistem satu arah, Pemprov Sumbar juga mengimbau para pengendara untuk tidak berhenti di sepanjang jalur Lembah Anai.

Kebijakan tersebut diambil demi menjaga kelancaran arus lalu lintas sekaligus meminimalisir risiko keselamatan, mengingat kawasan tersebut masih dalam tahap perbaikan dan beberapa tahun terakhir kerap terdampak bencana.

“Kawasan ini belum sepenuhnya aman dan masih dalam proses pengerjaan. Yang perlu kita lakukan adalah mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk untuk memastikan keselamatan masyarakat. Karena itu, pengendara dilarang berhenti di sepanjang jalur tersebut,” ujarnya.

Arry menegaskan, aspek keselamatan menjadi prioritas utama pemerintah dalam pengambilan kebijakan, terutama menjelang arus mudik dan balik Lebaran yang diprediksi akan meningkat signifikan.

HKI Berupaya Percepat Akses di Lembah Anai

Sebelumnya dilaporkan PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) terus berupaya mempercepat penanganan pada ruas Jalan Padang–Bukittinggi via Lembah Anai yang terdampak banjir dan longsor pada 28 Nolember lalu.

Dari total sekitar 5,8 km area terdampak di 15 titik, penanganan prioritas tahap ini dilakukan pada segmen kritis dengan panjang efektif sekitar 800 meter.

Saat ini, sedang dilakukan penanganan permanen menggunakan metode borepile dengan sistem  soldier pile  di KM 63+500 dan KM 65+200, yang rencananya akan dilanjutkan di KM 62+700 dan lokasi-lokasi lainnya.

Metode borepile dengan sistem soldier pile merupakan teknik pengeboran pondasi dalam yang menggabungkan tiang borepile (lubang bor beton bertulang) dengan soldier piles untuk menahan tanah secara sementara selama penggalian.

Soldier piles biasanya berupa tiang H-beam baja yang dipasang vertikal ke dalam tanah, kemudian dihubungkan dengan planking kayu atau beton panel horizontal untuk mencegah longsor pada dinding galian.

Pendekatan ini umum digunakan pada proyek konstruksi di lahan sempit atau tanah lunak, seperti di Jakarta dengan kondisi tanah lempung.

Pelaksanaan pada tahap awalnya melibatkan pemasangan soldier piles menggunakan alat bor atau driven pile, diikuti instalasi planking antar soldier pile untuk bentuk tembok penahan tanah.

Lubang borepile kemudian dibor di antara soldier piles dengan metode basah atau kering, dimasukkan tulangan baja, dan dicor beton bergradasi tinggi hingga kedalaman 15-50 meter tergantung kondisi tanah.

Sistem ini meminimalkan getaran dan cocok untuk area urban padat.

Sekretaris Perusahaan HKI Philadelphia H.H.P menjelaskan bahwa struktur borepile dengan sistem soldier pile ini dipilih karena mampu memberikan stabilitas struktural jangka panjang, aman pada kondisi tanah berbatu, dan tidak mengganggu stabilitas lingkungan sekitar karena minim getaran.

Harapannya, penanganan permanen di Jalur Lembah Anai tetap dapat dilakukan sembari tetap mengupayakan agar akses tetap dapat dilalui warga.

“Saat ini kami sudah mulai melaksanakan pekerjaan penanganan permanen, yang ditargetkan selesai pada di akhir Juli 2026. Adapun pekerjaan yang telah dilakukan pasca bencana hingga hari ini yakni perbaikan oprit, normalisasi aliran sungai, dan perbaikan struktur jalan,” kata Philadelphia dalam penjelasan tertulisnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (31/12/2025).

Untuk percepatan pekerjaan di lapangan, jelasnya, HKI menambah jumlah alat borepile menjadi 8 unit dari rencana awal 5 unit. Hingga Selasa (30/12), sebanyak 3 alat borepile telah beroperasi, dan unit lainnya akan terus didatangkan secara bertahap selama masa pekerjaan.

Pada area sekitar Jembatan Margayasa, selain perapihan dan pembersihan material, HKI juga melakukan perkuatan struktural berupa perbaikan oprit pada sisi abutment Jembatan Margayasa.

Tahapan yang tengah dikerjakan yakni pembentukan matras menggunakan jumbo bag dan timbunan sirtu untuk kemudian dilakukan penanganan permanen dengan menggunakan soldier pile. Tujuannya untuk memperkuat badan jalan dari gerusan sungai dan menjaga stabilitas jalan.

Selama pekerjaan berlangsung, HKI senantiasa berkoordinasi dengan pihak terkait untuk pengaturan lalu lintas di lokasi, termasuk pemasangan rambu peringatan, pengaturan buka-tutup jalur pada jam tertentu, serta penempatan petugas untuk memastikan kendaraan dapat melintas dengan aman. Pengguna jalan diminta mengurangi kecepatan dan mengikuti arahan petugas di lapangan.

Sejumlah warga yang melewati jalur akses Jalan Padang-Bukittingi via Lembah Anai menyampaikan apresiasi atas langkah penanganan yang dilakukan oleh HKI sehingga akses Lembah Anai bisa tersambung kembali.

Apresiasi ini disampaikan mengingat bahwa Jalur Lembah Anai merupakan akses nasional vital yang diandalkan masyarakat Sumatra Barat untuk bepergian dari Padang menuju Bukittinggi atau sebaliknya.

⁠HKI menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah daerah dan instansi terkait, serta kerja sama masyarakat selama proses penanganan. Kolaborasi ini menjadi bagian penting untuk mempercepat pemulihan akses dan menjaga keselamatan pengguna jalan.

“Kami memohon doa kepada masyarakat agar pekerjaan di Lembah Anai diberikan kelancaran, sehingga kami bisa segera mengembalikan mobilitas masyarakat Sumatra Barat seperti semula,” tutup Philadelphia. (*)

 

 

Penulis : Awaluddin Awe/HI