*Dari Riau ke Baharkam, SJR: Herry Heryawan Bawa Model Baru Harkamtibmas*

oleh -23 Dilihat
oleh

LensaKita.co.id — Penunjukan Komjen Pol Herry Heryawan sebagai Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri dinilai menjadi angin segar bagi penguatan keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas) di Indonesia.

Ketua Umum Ikatan Alumni UPN Veteran Jakarta sekaligus inisiator Garda Pers Merah Putih, Sayed Junaidi Rizaldi atau dikenal dengan SJR, menilai Herry bukan sekadar perwira dengan pengalaman panjang, tetapi memiliki rekam jejak inovasi dalam membangun pendekatan kepolisian yang lebih preventif, humanis, sekaligus tegas dalam penegakan hukum.

“Terpilihnya Komjen Pol Herry Heryawan sebagai Kabaharkam memberikan angin segar. Kita berharap ada pendekatan baru dalam Harkamtibmas, bukan hanya bagaimana polisi bertindak ketika kejahatan sudah terjadi, tetapi bagaimana kejahatan dan konflik dapat dicegah sejak awal,” ujar SJR.

Menurut SJR, salah satu kekuatan Herry yang patut diapresiasi adalah konsep Green Policing yang pernah dikembangkan dalam menjalankan tugasnya.

Bagi SJR, konsep tersebut penting karena persoalan keamanan saat ini tidak lagi dapat dilihat hanya dari perspektif kriminalitas konvensional.

“Kerusakan lingkungan bisa melahirkan konflik sosial. Karhutla bisa mengganggu kesehatan masyarakat, perekonomian dan bahkan hubungan antarwilayah. Konflik agraria juga bisa berkembang menjadi gangguan keamanan. Karena itu keamanan lingkungan harus menjadi bagian dari Harkamtibmas,” tegasnya.

*Green Policing Jangan Berhenti di Riau*

SJR berharap pengalaman Herry dalam menerapkan Green Policing di Riau dapat dinaikkan skalanya menjadi model yang dapat dikembangkan secara nasional.

Pendekatan tersebut, kata dia, memiliki tiga instrumen penting: pencegahan, penegakan hukum dan pemulihan lingkungan.

Pertama, edukasi masyarakat tentang pencegahan kebakaran hutan dan lahan dilakukan sejak usia dini hingga perguruan tinggi.

Kedua, penegakan hukum dilakukan secara tegas terhadap pihak yang terbukti melakukan perusakan lingkungan.

Ketiga, setelah persoalan terjadi, dilakukan langkah restorasi untuk mengembalikan kondisi lingkungan.

“Ini yang menarik. Polisi tidak hanya hadir dengan pendekatan represif. Ada edukasi, ada penegakan hukum, dan ada restorasi. Tiga hal ini kalau dilakukan secara konsisten bisa menjadi wajah baru Harkamtibmas,” kata SJR.

Ia menilai paradigma seperti itu sangat relevan dengan tantangan Indonesia saat ini.

“Jangan sampai polisi hanya datang setelah ada asap, konflik atau korban. Negara harus hadir lebih awal. Polisi harus mampu membaca potensi konflik sebelum menjadi ledakan sosial,” ujarnya.

*Karangan Bunga Diganti Bibit Pohon*

Salah satu inovasi Herry yang menurut Sayed layak diapresiasi adalah perubahan tradisi internal kepolisian di Riau.

Alih-alih memberikan karangan bunga kepada personel yang berulang tahun atau memperoleh kenaikan pangkat, tradisi tersebut diarahkan menjadi pemberian bibit pohon.

“Ini memang kelihatannya sederhana, tetapi pesan moralnya sangat kuat. Karangan bunga hanya menjadi simbol sesaat, sementara pohon bisa tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata SJR.

Menurut dia, inovasi tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan kepolisian dapat membangun budaya organisasi sekaligus memberikan dampak sosial dan ekologis.

“Kalau budaya seperti ini dikembangkan secara nasional, polisi tidak hanya dikenal sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai bagian dari solusi terhadap persoalan lingkungan,” katanya.

SJR juga menilai pengalaman Herry di Riau menjadi modal penting dalam melihat persoalan penegakan hukum di daerah tersebut.

Riau, kata dia, memiliki persoalan yang kompleks, mulai dari karhutla, konflik lahan, persoalan perkebunan, lingkungan hidup hingga dinamika sosial masyarakat.

“Karena itu pengalaman Herry di Riau tidak boleh dilihat sebagai masa lalu. Itu adalah laboratorium kepemimpinan yang sangat penting,” ujar SJR.

*Tantangan Besar Menanti “Bapak Gajah”*

SJR menyadari bahwa jabatan Kabaharkam bukan jabatan ringan. Herry akan menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, kejahatan digital, konflik sosial, persoalan lingkungan hingga dinamika politik dan ekonomi.

Karena itu, menurut SJR, publik akan menunggu apakah pengalaman dan inovasi Herry selama bertugas dapat diterjemahkan menjadi kebijakan Harkamtibmas berskala nasional.

“Komjen Pol Herry Heryawan sekarang bukan hanya membawa nama pribadi. Beliau membawa amanah institusi. Publik akan melihat bagaimana beliau menerjemahkan pengalaman lapangan menjadi kebijakan nasional,” katanya.

Ia pun berharap sosok yang dikenal dengan julukan “Bapak Gajah” tersebut tetap mempertahankan karakter kepemimpinan yang tegas namun humanis.

“Gajah itu kuat, tetapi kekuatan harus digunakan untuk melindungi, bukan menakut-nakuti. Itu filosofi yang saya kira relevan dengan tugas Herry sebagai Kabaharkam,” ujar SJR.

SJR berharap Herry mampu membangun Baharkam yang semakin modern, responsif dan dekat dengan masyarakat.

“Selamat atas amanah baru untuk Komjen Pol Herry Heryawan. Ini bukan sekadar promosi jabatan, tetapi momentum untuk menghadirkan wajah baru Harkamtibmas. Publik menunggu bukti bahwa pendekatan preventif, humanis, penegakan hukum yang tegas dan kepedulian terhadap lingkungan bisa berjalan bersama,” tutup SJR tegas.**