LensaKita.co.id — Pelibatan personel TNI dalam berbagai program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, kembali menuai sorotan. Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menilai tugas utama militer seharusnya tetap berada di ranah pertahanan.
Gatot mengingatkan agar keterlibatan TNI dalam program sipil tidak semakin meluas hingga memunculkan kembali kekhawatiran mengenai praktik dwifungsi militer seperti pada era Orde Baru.
Menurutnya, dalam kondisi damai, TNI seharusnya lebih banyak berfokus meningkatkan kemampuan dan latihan untuk menghadapi ancaman pertahanan.
“Tentara itu pikirannya, domainnya, adalah perang. Titik,” tegas Gatot.
Ia mengakui militer memiliki bagian yang berkaitan dengan urusan dapur. Namun, hal tersebut bukan berarti personel TNI harus mengambil alih pekerjaan yang menjadi ranah masyarakat sipil.
Gatot juga menyoroti pembangunan sejumlah kantor Koperasi Desa Merah Putih yang melibatkan tentara. Ia menduga pelibatan tersebut dilakukan dengan pertimbangan efisiensi waktu dan biaya.
“Jadi kalau bisa kegiatan-kegiatan yang di luar domain itu tidak menjadi pengisi kegiatan,” ujarnya.
Meski mengkritik fenomena tersebut, Gatot menegaskan bahwa pelibatan TNI dalam berbagai program bukan atas kehendak institusi militer, melainkan karena adanya perintah.
“Itu semua bukan keinginan TNI, tapi itu adalah atas perintah,” kata Gatot.
Soroti Meritokrasi di Tubuh TNI
Selain persoalan keterlibatan dalam program sipil, Gatot turut menyoroti penerapan meritokrasi di internal TNI. Ia menilai masih ada personel yang memperoleh kenaikan pangkat atau jabatan karena memiliki koneksi dengan pihak berpengaruh.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menggerus integritas personel dan membuat prajurit lebih sibuk mengejar kepentingan pribadi daripada mengabdi kepada negara.
“Tentara itu tidak boleh seperti itu. Dia hanya bekerja yang terbaik untuk negeri ini,” jelasnya.
Gatot menegaskan meritokrasi merupakan hal penting bagi institusi militer karena berkaitan erat dengan profesionalisme dan netralitas TNI.
“Kalau militer sudah tidak meritokrasi, maka jangan berharap dia bisa netral,” pungkas Gatot.**
Sumber : @Melihat_Indo

