LensaKita.co.id — Dugaan pungutan liar (pungli) yang dilakukan seorang oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Rumah Belajar Merah Putih, Cilincing, Jakarta Utara, menjadi sorotan setelah kisahnya viral di media sosial. Oknum tersebut diduga meminta “uang kopi” kepada pengelola rumah belajar.
Pendiri Rumah Belajar Merah Putih, Desi Purwatuning, mengatakan peristiwa itu terjadi pada Senin (6/7/2026) saat dirinya tidak berada di lokasi.
Timnya menghubungi Desi setelah didatangi seorang pria yang mengaku berasal dari Satpol PP dan menanyakan soal bangunan rumah belajar.
“Kebetulan saya enggak ada di tempat. Diteleponlah sama tim, bilang, ‘Bunda, ada tamu mau tanya tentang bangunan.’ Kaget dong. Secara di sini daerah ilegal, enggak ada IMB. Terus tiba-tiba orang nanya, gitu kan. Akhirnya saya bilang, saya telepon,” ujar Desi.
Saat dihubungi, pria yang mengaku bernama Aceng itu langsung meminta uang.
“(Oknum Satpol PP) ngomongnya gini, ‘Halo, Assalamualaikum sayang. Saya Aceng, Satpol PP. Tau sama tau lah, ini saya ada 5 orang, saya minta uang kopi’,” ungkapnya.
Awalnya, Desi meminta pengurus memberikan Rp150 ribu. Namun, permintaan itu ditolak dan oknum tersebut meminta Rp300 ribu.
“Tim saya telepon lagi ke saya, ‘Bun, enggak mau, orangnya minta Rp300.000.’ Saya kaget dong. Loh, kok bisa-bisaan? Gitu kan. Ah, ini pemalakan kan,” katanya.
Merasa curiga, Desi meminta rekannya menghubungi pria tersebut. Namun saat ditanya berasal dari Satpol PP wilayah mana, pria itu disebut langsung pergi sambil membawa uang Rp150 ribu yang telah diterimanya.
“Pas ditelepon sama rekan saya, cuman nanya gini, ‘Kamu dari Satpol PP mana?’ Langsung kabur. Dan uang itu dibawa!” tuturnya.
Desi menyebut uang tersebut merupakan hasil iuran anak-anak yang mengikuti kegiatan belajar dengan biaya sukarela Rp2.000 bagi yang mampu.
Karena tak kunjung mendapat penjelasan dari pihak Satpol PP, Desi mengunggah kejadian itu ke media sosial. Setelah viral, sejumlah orang mengaku pernah mengalami dugaan pungli serupa oleh oknum yang diduga orang yang sama.
“Karena ternyata begitu saya buka di Facebook ya, mereka bilang, ‘Orang ini sering minta.’ Jadi bukan saya doang korbannya,” ujarnya.
Kasus ini pun kini menjadi perhatian publik dan diharapkan dapat ditindaklanjuti secara transparan oleh pihak terkait.**
Sumber : @Melihat_Indo https://x.com/i/status/2077763050560692643
